Memang hidup itu pilihan
Memang pilihan yang kita pilih bukan takdir kita
Memang takdir tidak selalu membuat kita bahagia disaat kita menjalaninya
Sampai batas mana kemampuan jiwa manusia?
Adakah yang mampu mengukurnya, menghindari limitasinya?
Itu bagian krusial, saya rasa?
Limitasi ketahanan jiwa manusia apakah berkaitan dengan kerohaniannya?
Ternyata emosi yang di redam menguapkan tenaga
Ternyata kenyataan yang sulit diterima menguapkan emosi
Saat semua itu sudah menguap hanya air mata yang keluar tanpa tau untuk apa
Mungkin berhasil menampik dan tidak mengakui yang dirasakan
Tapi kita pasti tau betul ada yang tidak sehat di jiwa kita
Mungkin menurut mereka yang paham, kita perlu pertolongan
Tapi kita tidak pernah mengerti bagian mana dari diri kita yagn perlu di bantu
Aku bergerak mundur, Dengan sedikit goncangan lembut. Dengan "harta" yang kuanggap perlu ku bawa. Di tengah malam gelap kuterus menjauh dengan kapal nahkoda hatiku. Hanya dengan terang sang ayah malam, aku semakin dingin. Tanpa gemintang, biar aku pergi. Dari kelu sepi ini menuju sesuatu yang lebih hangat atau semakin dalam di kelam. (Membiarkan kamu tetap di tempatmu,tempurungmu, kebahagiaanmu)
Komentar
Posting Komentar