Memang hidup itu pilihan
Memang pilihan yang kita pilih bukan takdir kita
Memang takdir tidak selalu membuat kita bahagia disaat kita menjalaninya
Sampai batas mana kemampuan jiwa manusia?
Adakah yang mampu mengukurnya, menghindari limitasinya?
Itu bagian krusial, saya rasa?
Limitasi ketahanan jiwa manusia apakah berkaitan dengan kerohaniannya?
Ternyata emosi yang di redam menguapkan tenaga
Ternyata kenyataan yang sulit diterima menguapkan emosi
Saat semua itu sudah menguap hanya air mata yang keluar tanpa tau untuk apa
Mungkin berhasil menampik dan tidak mengakui yang dirasakan
Tapi kita pasti tau betul ada yang tidak sehat di jiwa kita
Mungkin menurut mereka yang paham, kita perlu pertolongan
Tapi kita tidak pernah mengerti bagian mana dari diri kita yagn perlu di bantu
Kamu tau membuatku merasakan kenyamanan melebihi kenyamanan kesendirianku di dalam rumahku. Gelak tubuh tingkahmu membuatku sanggup mengucap kalau kau membuat kuyu lututku. Aku lihat air mukamu yang bahagia ketika aku bahagia. Kudengar suara gemetarmu ketika kau berbicara dengan ak dalam keadaan aku sakit. Kurasakan keinginanmu merangkulku ketika ku dalam peluh. Kau selalu ada dan selalu berusaha ada bahkan meninggalkan yang menjadi kebutuhanmu ketika ak menangis. Kau melakukan itu dengan tulus, ku tau itu. Memang kau tulus untuk semua orang. Sedih aku melihat kenyataan hidupmu kau berikan untuk melihat orang di sekitarmu bahagia. Walau Aku tau setiap orang memiliki cara untuk berbahagianya masing-masing. Di balik keriangan, kebaikan, keramahan, kesenanganmu bercanda gurau kau menutup rapat beban hidupmu. Kau kuat,kuat bukan berarti mampu menahan beban yang kau terima yang juga sangat subjektif dengan apa yang disebut kuat. Tapi kamu memang kuat dengan beban-beban yg kau panggul di lua...
Komentar
Posting Komentar