Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Abaikan

sekarang, dimata saya, coffee shop lebih sebagai living room bagi pengunjungnya. Tidak lagi sajiannya namun tempat kasual yang dipergunakan hanya bersantai melepas lelah. Di sini (oupss.. yap, saya di sini, di sekotak coffee shop, memandang lalu lalang kendaraan jalan utama)di meja sekitar saya ada pria yang sibuk dengan gadget-gadget nya. Ada sales asuransi di pojok ruangan yang sedang menebar gambaran masa depan manis kepada dua pria yang duduk berbagi meja dengannya. Ada 3 laki-laki berkelakar dengan meja penuh makanan dan minuman dengan saling mempertunjukan kehebatan materi masing-masing. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak dengan pakaian rapi, yang entah sedang berselingkuh atau hanya kurang kerjaan, yang baru saja melewati saya menuju mobilnya dengan garis celana dalam terlihat jelas dari celana formilnya yang ketat. Ada 2 perempuan remaja terlihat ragu-ragu menuju coffee shop,hmm.. bagaimana saya menggambarkannya, mungkin sepertI KIMCIL (berdasarkan pemahaman yang saya tangkap dari pen

Rough Traffic

Seakan anak kecil bercongkor di antar "kesadaran" dan jalan menuju gendang telingaku. Melengkingkan bahasa yang tak terbaca angan, tak terbaca khalayak, hanya dalam khayal ak mampu untuk mengerti. Ketika ku turunkan titah meredupakan seluruh ketegangan dalam batas kesadaran. Smua dimensi dan dalam berbagai peran melesat, secepat peluh yang tertiup hawa dingin untuk menguap, tanpa tau kemananya . Bertabrakan, menerobos, bertukar tempat, bercampur tanpa kaidah.merusak setiap partisi memori. Betambah terus,entah kualitas,entah kuantitas, sampai lengkingan tanpa dunia tertelan oleh mereka. Hanya ada pilihan, mengambang di ketulian yang hening, atau pecah dalam realita

untitled 2 (bandengan 28 agustus)

Aku bergerak mundur, Dengan sedikit goncangan lembut. Dengan "harta" yang kuanggap perlu ku bawa. Di tengah malam gelap kuterus menjauh dengan kapal nahkoda hatiku. Hanya dengan terang sang ayah malam, aku semakin dingin. Tanpa gemintang, biar aku pergi. Dari kelu sepi ini menuju sesuatu yang lebih hangat atau semakin dalam di kelam. (Membiarkan kamu tetap di tempatmu,tempurungmu, kebahagiaanmu)

Bias Kekecewaan

Disaat semakin tipisnya rasa percaya ini. Ketakutan semakin menjalar. Tapi aku ini hanya seorang perempuan manja, yang selalu ingin dikasihi. Tak ingin putusnya menyayangi dan di sayangi. Namun ketakutan itu terus berkuasa. Tak sanggup ku memilih, hanya di sini terjebak ketidak berdayaan. Inilah biasan setetes air mata perempuan yang terus merasakan penghianatan

RIUH MEMBUNGKUS KESEPIAN

Aku ini seekor burung Paradisaeidae. Gemulai dengan liuknya. Dengan bulu-bulu indah. Mampu terbang tinggi, melewati awan dengan kelembutan namun tegas. Kulewati awan, Kumampu membuat awan bersemu menurunkan keceriaan di bawah sana. Kulewati awan selanjutnya, Pelangipun muncul menyapaku mengundang mahluk-mahluk berkumpul dan tersenyum. Ku terus terbang menuju pulau harapan. Dengan keyakinan dan deru semangat. Di sepanjang langit yang sepi ku selalu menyadari itu. Cawan kristal yang dirakit menjadi hidupku, ku rasakan penuh. Penuh hanya dengan debu, dengan desir kelabu, kosong dari yang kumau mau.

TERIMA KASIH UNTUK SAHABAT TERBAIKKU

Kamu tau membuatku merasakan kenyamanan melebihi kenyamanan kesendirianku di dalam rumahku. Gelak tubuh tingkahmu membuatku sanggup mengucap kalau kau membuat kuyu lututku. Aku lihat air mukamu yang bahagia ketika aku bahagia. Kudengar suara gemetarmu ketika kau berbicara dengan ak dalam keadaan aku sakit. Kurasakan keinginanmu merangkulku ketika ku dalam peluh. Kau selalu ada dan selalu berusaha ada bahkan meninggalkan yang menjadi kebutuhanmu ketika ak menangis. Kau melakukan itu dengan tulus, ku tau itu. Memang kau tulus untuk semua orang. Sedih aku melihat kenyataan hidupmu kau berikan untuk melihat orang di sekitarmu bahagia. Walau Aku tau setiap orang memiliki cara untuk berbahagianya masing-masing. Di balik keriangan, kebaikan, keramahan, kesenanganmu bercanda gurau kau menutup rapat beban hidupmu. Kau kuat,kuat bukan berarti mampu menahan beban yang kau terima yang juga sangat subjektif dengan apa yang disebut kuat. Tapi kamu memang kuat dengan beban-beban yg kau panggul di lua

KACA ABU-ABU

Aku lihat pecahan kaca abu-abu berpendar terserak di seluruh ruang ini.. Aku tidur tepat di ambang pertengahan ruangan.. Raga ini Seperti tertahan di balik helai-helai kerisauan.. merasakan semakin banyak kaca abu-abu yang keluar dari getirnya hasrat yang semakin menipisnya asa dari diriku.. Ku mampu melihatnya.. Bertebangan.. Mengelilingiku.. Menyelubungiku.. Tapi tak mampu kurengkuh, kujalin, dan kujadikan asa utuh menjadi hasrat merengkuh semua semangat. Tersenggal-sengal aku merasakan smakin hilangnya kaca itu dariku.. Melepaskan diri dari helai-helai kerisauan yang membelitkupun tak mampu.. Biar kurasakan ini sebelum ini berubah lagi di saat yg belum kutau.. Di rasa yang entah menjadi seperti apa lg.. Kunikamti setiap detik kurasa.. Kugambarkan dalam kata yg kau baca ini

LAMUNAN MAHASISWI PEMALAS

Menerjang angin pasir.. Memaksa mata ini tak terantuk.. Merasakan lembab desiran angin yang terus menerpa.. Mencium bau yang begitu khas..disuguhkan dengan secangkir hangat kopi autentik..sejauh mata nemandang hanya gulungan partiker kecil melayang..coklat, bertimbunan membentuk gubah..terbingkai helai perhelai kain indah. Tempat seperti itu,suasana seperti itu yang mampu membawaku meninggalkan anganku..begitu besar keinginku itu..dengan mata terperangah di antara banyaknya kepala, dengan banyak batas putih mengelilingi batas untuk kepala2 ini..dengan angin dingin, tanpa bau yang nenyenangkan dan tanpa ada bingkai2 indah. Ak bisa merasakan itu, menikmati kenyamanan yang membawa anganku pergi melompati keinginanku di tempat itu..

LETIH

Gontai di anatara kebisuan Kebisuan untuk menentukan pijakan Pijakan untuk melangkah maju Dan meneruskan pilihan Hidup penuh jerit pilu Lainya diselubungi tawa liar Memenuhi liang dengan kedurjanaan Menimbun kelam dalam riang Setiap bulan meneduhi Saat mata mulai bersiap terpejam Selalu mempunyai keyakinan Akan ada yg lebih baik saat membuka mata, menjelang matahari baru di hari baru Malam ini, saat ini, Aku bersiap berlenggang si tengah alam angan Mengatupkan mata..membuka senyum dengan keyakinan sang Maha Pemberkat sedang melihat wajahku Percaya berkat baru dan yang terbaik menghujani dari mulai ku membuka mata kembali

NANAR

Nanar..hmm.. Apa yang kutau mengenai nanar Nanar itu ketika seorang ayah melihat kegagalan dirinya membangun seorang anak yg soleh. Nanar itu ketika seseorang telah memperjuangkan bola kristal tipis untuk seseorang namun dengan mudahnya bola kristal tersebut dibuang oleh seorang lainnya. Tp aku bisa mendeskripsikan apa yang kurasa adalah nanar, nanar yg berpendar di dalan tubuh ini.Mengisyaratkan gejolak dentum retakan dari sesuatu yg kuat yang telah siap memecah selubung yang hampir pecah. Lautan emosi bercampur kecewa di pacu amarah.

KURCACI NAKAL

Dapat kamu bayangkan, Ketika kamu merasa...... Ada dua atau lebih kurcaci sedang ada di otakmu. Memaksakan idiom masing-masing ke dalam otak kamu.. Dan otak yg berkekuatan dan berdiri untuk diri kita sendiri berjuang mendesak semua kurcaci,menentang mreka berjuang untuk merdeka atas daerah kekuasaan si otak.. Si kuracaci pertama terus mengungkit masa lalu mengiyang-iyangkan pesakitan terdahulu. Kurcaci menyeruak pesakitan terdahulu lainnya..kurcaci2 selanjutnya semakin banyak bermunculan, mengingatkan pesakitan lainnya..dan sekelompok kurcaci bekerjasama menyambung2kan semua pesakitan tersebut..mengocok si otak berusaha menyadarkan si otak dan yang memiliki otak tersebut. Merangkai semua histori menimbulkan kebencian dan kedengkian yang sudah entah dibuang kemana yang sebenarnya belum benar-benar hilang tapi hanya "dibuang", dibuang yang sebenarnya masih bisa diambil dan di gunakan ("dirasakan") bukan hilang ("dilenyapkan"). Tungguuu...Apa sebenarnya si pe