Langsung ke konten utama

RIUH MEMBUNGKUS KESEPIAN

Aku ini seekor burung Paradisaeidae.
Gemulai dengan liuknya.
Dengan bulu-bulu indah.
Mampu terbang tinggi, melewati awan dengan kelembutan namun tegas.

Kulewati awan,
Kumampu membuat awan bersemu menurunkan keceriaan di bawah sana.
Kulewati awan selanjutnya,
Pelangipun muncul menyapaku mengundang mahluk-mahluk berkumpul dan tersenyum.

Ku terus terbang menuju pulau harapan.
Dengan keyakinan dan deru semangat.
Di sepanjang langit yang sepi ku selalu menyadari itu.
Cawan kristal yang dirakit menjadi hidupku, ku rasakan penuh.
Penuh hanya dengan debu, dengan desir kelabu, kosong dari yang kumau mau.

Komentar

  1. halo burung surga.

    hahahaha
    lama tak k sni saya.

    BalasHapus
  2. heheh udah lama ngak buat tulisan juga mbong., payah ni aku., hehe,.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUK SAHABAT TERBAIKKU

Kamu tau membuatku merasakan kenyamanan melebihi kenyamanan kesendirianku di dalam rumahku. Gelak tubuh tingkahmu membuatku sanggup mengucap kalau kau membuat kuyu lututku. Aku lihat air mukamu yang bahagia ketika aku bahagia. Kudengar suara gemetarmu ketika kau berbicara dengan ak dalam keadaan aku sakit. Kurasakan keinginanmu merangkulku ketika ku dalam peluh. Kau selalu ada dan selalu berusaha ada bahkan meninggalkan yang menjadi kebutuhanmu ketika ak menangis. Kau melakukan itu dengan tulus, ku tau itu. Memang kau tulus untuk semua orang. Sedih aku melihat kenyataan hidupmu kau berikan untuk melihat orang di sekitarmu bahagia. Walau Aku tau setiap orang memiliki cara untuk berbahagianya masing-masing. Di balik keriangan, kebaikan, keramahan, kesenanganmu bercanda gurau kau menutup rapat beban hidupmu. Kau kuat,kuat bukan berarti mampu menahan beban yang kau terima yang juga sangat subjektif dengan apa yang disebut kuat. Tapi kamu memang kuat dengan beban-beban yg kau panggul di lua...

untitled 2 (bandengan 28 agustus)

Aku bergerak mundur, Dengan sedikit goncangan lembut. Dengan "harta" yang kuanggap perlu ku bawa. Di tengah malam gelap kuterus menjauh dengan kapal nahkoda hatiku. Hanya dengan terang sang ayah malam, aku semakin dingin. Tanpa gemintang, biar aku pergi. Dari kelu sepi ini menuju sesuatu yang lebih hangat atau semakin dalam di kelam. (Membiarkan kamu tetap di tempatmu,tempurungmu, kebahagiaanmu)