Langsung ke konten utama

6 Agustus 2011

Aku seperti ditelanjangi matahari sore.
Memanggilku menenggak kemenangan diriku.
Hangatnya memberiku keyakinan untuk berani merasakan kebanggaan itu.

Sehingga mampu bersabda, wanita bukan menyerahkan jalan hidupnya kepada pria manapun. Namun melayani.

Menjadi manusia yang tau cara menikmati hidup, melepaskan setiap waktu yang berharga membiarkannya menguap melihatnya berlalu lambat.

Menjadi manusia yang mampu mengikat sinar matahari, merangkainya untuk layak menjadi tiara diatas kepalanya.

Ideal, atau pencapain. Itu tasbihnya. Walaupun ak tidak yakin itu layak dikatakan seperti itu.
Atas nama matahari sore yang menerangi sawah jawa.
Dewi Sri yang memberi makan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUK SAHABAT TERBAIKKU

Kamu tau membuatku merasakan kenyamanan melebihi kenyamanan kesendirianku di dalam rumahku. Gelak tubuh tingkahmu membuatku sanggup mengucap kalau kau membuat kuyu lututku. Aku lihat air mukamu yang bahagia ketika aku bahagia. Kudengar suara gemetarmu ketika kau berbicara dengan ak dalam keadaan aku sakit. Kurasakan keinginanmu merangkulku ketika ku dalam peluh. Kau selalu ada dan selalu berusaha ada bahkan meninggalkan yang menjadi kebutuhanmu ketika ak menangis. Kau melakukan itu dengan tulus, ku tau itu. Memang kau tulus untuk semua orang. Sedih aku melihat kenyataan hidupmu kau berikan untuk melihat orang di sekitarmu bahagia. Walau Aku tau setiap orang memiliki cara untuk berbahagianya masing-masing. Di balik keriangan, kebaikan, keramahan, kesenanganmu bercanda gurau kau menutup rapat beban hidupmu. Kau kuat,kuat bukan berarti mampu menahan beban yang kau terima yang juga sangat subjektif dengan apa yang disebut kuat. Tapi kamu memang kuat dengan beban-beban yg kau panggul di lua...

untitled 2 (bandengan 28 agustus)

Aku bergerak mundur, Dengan sedikit goncangan lembut. Dengan "harta" yang kuanggap perlu ku bawa. Di tengah malam gelap kuterus menjauh dengan kapal nahkoda hatiku. Hanya dengan terang sang ayah malam, aku semakin dingin. Tanpa gemintang, biar aku pergi. Dari kelu sepi ini menuju sesuatu yang lebih hangat atau semakin dalam di kelam. (Membiarkan kamu tetap di tempatmu,tempurungmu, kebahagiaanmu)