Langsung ke konten utama

Rough Traffic

Seakan anak kecil bercongkor di antar "kesadaran" dan jalan menuju gendang telingaku.
Melengkingkan bahasa yang tak terbaca angan, tak terbaca khalayak, hanya dalam khayal ak mampu untuk mengerti.

Ketika ku turunkan titah meredupakan seluruh ketegangan dalam batas kesadaran.
Smua dimensi dan dalam berbagai peran melesat, secepat peluh yang tertiup hawa dingin untuk menguap, tanpa tau kemananya .

Bertabrakan, menerobos, bertukar tempat, bercampur tanpa kaidah.merusak setiap partisi memori.

Betambah terus,entah kualitas,entah kuantitas, sampai lengkingan tanpa dunia tertelan oleh mereka.

Hanya ada pilihan, mengambang di ketulian yang hening, atau pecah dalam realita

Komentar

  1. dilema ya??
    apa sih istilah dari kesepian di tempat yang ramai??aku lupaa....

    BalasHapus
  2. pusing, njelimet,.
    apa ya ril namanya..
    ramainya itu beberapa lapisan dimensi di bawah kesadaran menuju tidurku. hehe

    BalasHapus
  3. paradoks!!!!!!

    yang komentarku pertama itu salah nulis..keramaian dalam kesepian..hehhehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH UNTUK SAHABAT TERBAIKKU

Kamu tau membuatku merasakan kenyamanan melebihi kenyamanan kesendirianku di dalam rumahku. Gelak tubuh tingkahmu membuatku sanggup mengucap kalau kau membuat kuyu lututku. Aku lihat air mukamu yang bahagia ketika aku bahagia. Kudengar suara gemetarmu ketika kau berbicara dengan ak dalam keadaan aku sakit. Kurasakan keinginanmu merangkulku ketika ku dalam peluh. Kau selalu ada dan selalu berusaha ada bahkan meninggalkan yang menjadi kebutuhanmu ketika ak menangis. Kau melakukan itu dengan tulus, ku tau itu. Memang kau tulus untuk semua orang. Sedih aku melihat kenyataan hidupmu kau berikan untuk melihat orang di sekitarmu bahagia. Walau Aku tau setiap orang memiliki cara untuk berbahagianya masing-masing. Di balik keriangan, kebaikan, keramahan, kesenanganmu bercanda gurau kau menutup rapat beban hidupmu. Kau kuat,kuat bukan berarti mampu menahan beban yang kau terima yang juga sangat subjektif dengan apa yang disebut kuat. Tapi kamu memang kuat dengan beban-beban yg kau panggul di lua...

Abaikan

sekarang, dimata saya, coffee shop lebih sebagai living room bagi pengunjungnya. Tidak lagi sajiannya namun tempat kasual yang dipergunakan hanya bersantai melepas lelah. Di sini (oupss.. yap, saya di sini, di sekotak coffee shop, memandang lalu lalang kendaraan jalan utama)di meja sekitar saya ada pria yang sibuk dengan gadget-gadget nya. Ada sales asuransi di pojok ruangan yang sedang menebar gambaran masa depan manis kepada dua pria yang duduk berbagi meja dengannya. Ada 3 laki-laki berkelakar dengan meja penuh makanan dan minuman dengan saling mempertunjukan kehebatan materi masing-masing. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak dengan pakaian rapi, yang entah sedang berselingkuh atau hanya kurang kerjaan, yang baru saja melewati saya menuju mobilnya dengan garis celana dalam terlihat jelas dari celana formilnya yang ketat. Ada 2 perempuan remaja terlihat ragu-ragu menuju coffee shop,hmm.. bagaimana saya menggambarkannya, mungkin sepertI KIMCIL (berdasarkan pemahaman yang saya tangkap dari pen...

NANAR

Nanar..hmm.. Apa yang kutau mengenai nanar Nanar itu ketika seorang ayah melihat kegagalan dirinya membangun seorang anak yg soleh. Nanar itu ketika seseorang telah memperjuangkan bola kristal tipis untuk seseorang namun dengan mudahnya bola kristal tersebut dibuang oleh seorang lainnya. Tp aku bisa mendeskripsikan apa yang kurasa adalah nanar, nanar yg berpendar di dalan tubuh ini.Mengisyaratkan gejolak dentum retakan dari sesuatu yg kuat yang telah siap memecah selubung yang hampir pecah. Lautan emosi bercampur kecewa di pacu amarah.